Sunday, November 20, 2011

Pemikiran Pendidikan Islam Menurut KH. Hasyim Asy’ari


         Dalam kitabnya yang berjudul “Muta’allim Fima Yahtaj Ilah Al-Muta’alim Fi Ahual Muta’allum Wa Yataqaff Al-Mu’allim Fi Maqamat Ta’limah, beliau menuangkan pemikirannya tentang pendidikan Islam kedalam delapan poin, yaitu :
  1. Keutamaan ilmu dan keutamaan belajar mengajar
  2. Etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar
  3. Etika seorang murid kepada guru
  4. Etika seorang murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomi berasama guru
  5. Etika yang harus dipedomi seorang guru
  6. Etika guru ketika dan akan mengajar
  7. Etika guru terhadap murid-murid nya
  8. Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitannya dengannya.[1]

            Dari delapan pokok pemikiran di atas, Hasyim Asy’ari membaginya kembali kedalam tiga kelompok, yaitu :
  1. Signifikansi Pendidikan
  2. Tugas dan tanggung jawab seorang murid
  3. Tugas dan tanggung jawab seorang guru
Pada dasarnya, ketiga kelompok pemikiran tersebut adalah hasil integralisasi dari delapan pokok pendidikan yang dituangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari.
A.1. Sigifikansi Pendidikan
            Dalam membahas masalah ini, KH.Hasyim Asy’ari mengorientasikan pendapatnya berdasarkan alwur’an dan Al-Hadits. Sebagai contohnya ialah beliau mengambil pemikiran pendidikan tentang keutamaan menuntut ilmu dan keutamaan bagi yang menuntut ilmu dari surat Al-Mujadilah ayat 11 yang kemudian beliau uraikan secara singkat dan jelas. Misalnya beliau menyebutkan bahwa keutamaan yang paling utama dalam menuntut ilmu adalah mengamalkan apa yang telah dituntut. Secara langsung beliau akan menjelaskan maksud dari perkataan itu, yaitu agar seseorang tidak melupakan ilmu yang telah dimilikinya dan bermanfaat bagi kehidupannya di akherat kelak.
            KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan bahwa dalam menuntut ilmu harus memperhatikan dua hal pokok selain dari keimanan dan tauhid. Dua hal pokok tersebut adalah :
  1. bagi seorang peserta didik hendaknya ia memiliki niat yang suci untuk menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal yang bersifat duniawi dan jangan melecehkan atau menyepelekannya
  2.  bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu tidak semata-mata hanya mengharapkan materi, disamping itu hendaknya apa yang diajarkan sesuai dengan apa yang diperbuat.

            Hasyim Asy’ari juga menekankan bahwa belajar bukanlah semata-mata hanya untuk menghilangkan kebodohan, namun untuk mencari ridho Allah yang mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat. Kareba itu hendaknya belajar diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai islam bukan hanya semata-mata menjadi alat penyebrangan untuk mendapatkan meteri yang berlimpah.
A.2. Tugas dan Tanggung Jawab Murid
            Murid sebagai peserta didik memiliki tugas dan tanggung jawab berupa etika dalam menuntut ilmu, yaitu :
  1. Etika  yang harus diperhatikan dalam belajar
Dalam hal ini Hasyim Asy’ari mengungkapkan ada sepuluh etika yang harus dipebuhi oleh peserta didik atau murid, yaitu :
  1. membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian
  2. membersihkan niat
  3. tidak menunda-nunda kesempatan belajar
  4. bersabar dan qonaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan
  5. pandai mengatur waktu
  6. menyederhanakan makan dan minum
  7. bersikap hati-hati atau wara’
  8. menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan kemalasan yang pada akhirnya menimbulkan kebodohan
  9. menyediakan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan
10.  meninggalkan kurang faedah (hal-hal yang kurang berguna bagi perkembangan diri). Dalam hal ini tidak dibenarkan ketika seorang yang menuntut ilmu hanya menekankan pada hal-hal yang bersifat rohaniah atau duniawiah saja, karena keduanya adalah penting.
  1. Etika Seorang Murid Terhadap Guru
Etika seorang murid murid kepada guru, sesuai yang dikatakan oleh Hasyim Asy’ari hendaknya harus memperhatikan sepuluh etika utama, yaitu :
  1. hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang dijelaskan atau dikatakan oleh guru
  2. memilih guru yang wara’ artinya orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak disamping profesionalisme
  3. mengikuti jejak guru yang baik
  4. bersabar terhadap kekerasan guru
  5. berkunjung kepada guru pada tempatnya atau mintalah izin terlebih dahulu kalau harus memaksa keadaan pada bukan tempatnya
  6. duduklah yang rapi dan sopan ketika berhadapan dengan guru
  7. berbicaralah dengan sopan dan lemah lembut
  8. dengarkan segala fatwanya
  9. jangan sekali-kali menyela ketika sedang menjelaskan
  10. dan gunakan anggota kanan bila menyerahkan sesuatu kepadanya.

  1. Etika Murid Terhadap Pelajaran
Dalam menuntut ilmu murid hendaknya memperhatikan etika berikut :
  1. memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain untuk dipelajari
  2. harus mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung ilmu-ilmu fardhu ‘ain
  3. berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
  4. mendiskusikan atau menyetorkan apa yang telah ia pelajari pada orang yang dipercayainya
  5. senantiasa menganalisa, menyimak dan meneliti ilmu
  6. pancangkan cita-cita yang tinggi
  7. bergaulah dengan orang berilmu lebih tinggi (intelektual)
  8. ucapkan bila sampai ditempat majlis ta’lim (tempat belajar, sekolah, pesantren, dan lain-lain)
  9. bila terdapat hal-hal yang belum diketahui hendaknya ditanyakan
  10. bila kebetulan bersamaan banyak teman, jangan mendahului antrian bila tidak mendapatkan izin
  11. kemanapun kita pergi kemanapun kita berada jangan lupa bawa catatan
  12. pelajari pelajaran yang telah diajarkan dengan continue (istiqomah)
  13. tanamkan rasa semangat dalam belajar.

A.3. Tugas dan Tanggung Jawab Guru
            Dalam dunia pendidikan tidak hanya seorang murid yang memiliki tanggung jawab. Namun seorang guru juga memiliki tanggung jawab yang hampir serupa dengan murid, yaitu :
  1. Etika Seorang Guru
Seorang guru dalam menyampaikan ilmu pada peserta didik harus memiliki etika sebagai berikut :
  1. selalu mendekatkan diri kepada Allah
  2. senantiasa takut kepada Allah
  3. senantiasa bersikap tenang
  4. senantiasa berhati-hati
  5. senantiasa tawadhu’ dan khusu’
  6. mengadukan segala persoalannya kepada Allah SWT
  7. tidak menggunakan ilmunya untuk keduniawian saja
  8. tidak selalu memanjakan anak didik
  9. berlaku zuhud dalam kehidupan dunia
  10. menghindari berusaha dalam hal-hal yang rendah
  11. menghindari tempat-tempat yang kotor atau maksiat
  12. mengamalkan sunnah nabi
  13. mengistiqomahkan membaca al-qur’an
  14. bersikap ramah, ceria, dan suka menebarkan salam
  15.  membersihkan diri dari perbuatan yang tidak disukai Allah
  16. menumbuhkan semangat untuk mengembangkan dan menambah ilmu pengetahuan
  17. tidak menyalahgunakan ilmu dengan menyombongkannya
  18. dan membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas.

Dalam pembahasan ini ada satu hal yang sangat menarik, yaitu tentang poin yang terakhir guru harus rajin menulis, mengarang dan meringkas. Hal ini masih sangat jarang dijumpai, ini juga merupakan menjadi salah satu faktor mengapa masih sangat sulit dijumpai karya-karya ilmiah. Padahal dengan adanya guru yang selalu menulis, mengarang dan merangkum, ilmu yang dia miliki akan terabadikan.
  1. Etika Guru dalam mengajar
Seorang guru ketika mengajar dan hendak mengajar hendaknya memperhatikan etika-etika berikut :
  1. mensucikan diri dari hadats dan kotoran
  2. berpakaian yang sopan dan rapi serta berusaha berbau wewangian
  3. berniat beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu
  4. menyampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah (walaupun hanya sedikit)
  5. membiasakan membaca untuk menambah ilmu pengetahuan
  6. memberikan salam ketika masuk kedalam kelas
  7. sebelum belajar berdo’alah untuk para ahli ilmu yang telah terlebih dahulu meninggalkan kita
  8. berpenampilan yang kalem dan menghindarkan hal-hal yang tidak pantas dipandang mata
  9. menghindarkan diri dari gurauan dan banyak tertawa
  10. jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, makan, marah, mengantuk, dan lain sebagainya
  11. hendaknya mengambil tempat duduk yang strategis
  12. usahakan berpenampilan ramah, tegas, lugas dan tidak sombong
  13. dalam mengajar hendaknya mendahulukan materi yang penting dan disesuaikan dengan profesionalisme yang dimiliki
  14. jangan mengajarkan hal-hal yang bersifat subhat yang dapat menyesatkan
  15. perhatikan msing-masing kemampuan murid dalam meperhatikan dan jangan mengajar terlalu lama
  16. menciptakan ketengan dalam belajar
  17. menegur dengan lemah lembut dan baik ketika terdapat murid yang bandel
  18. bersikap terbuka dengan berbagai persoalan yang ditemukan
  19. berilah kesempatan pada murid yang datang terlambat dan ulangilah penjelasannya agar mudah dipahami apa yang dimaksud
  20. dan apabila sudah selesai berilah kesempatan kepada anak didik untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.[8]

Dari pemikiran yang ditawarkan oleh hasyim asy’ari tersebut, terlihatlah bahwa pemikirannya tentang etika guru dalam mengajar ini sesuai dengan apa yang beliau dan kita alami selama ini. Hal ini mengindikasikan bahwa apa yang beliau fikirkan adalah bersifat fragmatis atau berdasarkan pengalaman. Sehingga hal inilah yang memberikan nilai tambah begi pemikirannya.
  1. Etika Guru Bersama Murid
Guru dan murid pada dasarnya memiliki tanggung jawab yang berbeda, namun terkadang seorang guru dan murid mempunyai tanggung jawab yang sama, diantara etika tersebut adalah :
  1. berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at islam
  2. menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniawian
  3. hendaknya selalu melakukan instropeksi diri
  4. menggunakan metode yang sudah dipahami murid
  5. membangkitkan semangat murid dengan memotivasinya, begitu murid yang satu dengan yang lain
  6. memberikan latihan – latihan yang bersifat membantu
  7. selalu memperhatikan kemapuan peserta didik yang lain
  8. bersikap terbuka dan lapang dada
  9. membantu memecahkan masalah dan kesulitan peserta didik
  10. tunjukkan sikap yang arif dan tawadhu’ kepada peserta didik yang satu dengan yang lain.
Bila sebelumnya seorang murid dengan guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, maka setelah kita telaah kembali, ternyata seorang guru dan murid juga memiliki tugas yang serupa seperti tersebut di atas. Ini mengindikasikan bahwa pemikiran Hasyim Asy’ari tidak hanya tertuju pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh peserta didik dan guru, namun juga keasamaan yang dimiliki dan yang harus dijalani. Hal ini pulalah yang memberikan indikasi nilai utama yang lebih pada hasil pemikirannya.
»»  baca selengkapnya...

Wednesday, October 26, 2011

JANGAN LELAH BERANTAS KORUPSI

Oleh : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA 
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

SANGAT wajar dan logis kalau rakyat gemas, geram, dan mungkin saja mendekati putus asa, mengapa korupsi di negeri ini masih saja fenomenal?

Tiada hari tanpa berita korupsi, tapi penyelesaiannya mengecewakan. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat dan lembaga penegak hukum sangat rendah. Ini bisa kita dengarkan dalam obrolan harian di mana-mana, termasuk di warung kopi atau di warung tegal (warteg). Saya sebagai rektor, setiap menerima pesan singkat lewat handphonetentang pengaduan mahasiswa atau karyawan yang merasa dirugikan dan dizalimi haknya, langsung dada merasa sesak. Di lembaga dan komunitas mana pun penyimpangan dan korupsi selalu terjadi dengan volume dan daya rusaknya yang bervariasi. Ada yang besar, sedang, dan kecil.
Tapi penyimpangan dan korupsi tetap sebuah kejahatan yang membahayakan. Ibarat setitik api, kalau tidak dicegah, dapat menghanguskan seluruh hutan.Korupsi pun demikian. Jika dibiarkan akan melumpuhkan sebuah birokrasi, baik dalam skala kecil-lokal maupun nasional. Saya ingat pendapat seorang ahli sosiologi korupsi. Ibarat sebuah tubuh,virus korupsi kalau tidak dibasmi tuntas akan menggerogoti sendi-sendi tubuh sehingga akhirnya lemas, lunglai, hidup tidak produktif, tapi selalu memerlukan obat yang mahal. Atau ibarat ulat yang hinggap di pohon apel, kalau yang dimakan sekadar buah atau daunnya, korbannya mudah dipotong, diamputasi.

Namun bagaimana jadinya kalau yang dimakan itu batang tubuh dan akarakarnya? Maka pohon itu akan ambruk, mati. Begitulah halnya kalau virus korupsi sudah masuk ke tubuh birokrasi penegak hukum, tubuh pemerintahan sebuah negara akan keropos, tidak mampu bekerja dengan baik, bahkan lama-lama bangkrut dan dunia akan memberi label sebagai negara yang gagal (failed state). Maka sungguh tepat janji Pak SBY ketika kampanye calon presiden, salah satu program utamanya adalah memberantas korupsi. Catatan hitam yang melekat pada sejarah Orde Lama dan Orde Baru adalah penyakit korupsi, baik korupsi uang maupun kekuasaan.

Keduanya mesti turun dan diturunkan di tengah jalan.Rakyat selalu jadi korban. Sampai hari ini rakyat tak pernah lupa janji Presiden SBY dan media massa pun selalu mendukung upaya pemberantasan korupsi. Meski melelahkan hati, berbagai skandal korupsi selalu diberitakan media massa untuk memperingatkan dan mendukung janji Pak SBY serta mendorong rakyat agar jangan lelah memberantas korupsi. Negara dan bangsa mana pun pernah mengalami suatu masa dan situasi di mana korupsi sedemikian akut menyerang dan melilit sebuah pemerintahan dan kehidupan sosial yang ujung-ujungnya negara itu kacau, rakyat mengamuk.
Pelajaran dari sejarah itu begitu jelas. Bahkan pemerintahan China yang tidak beragama dan tidak memiliki Pancasila saja sangat serius memberantas korupsi sampaisampai memberlakukan hukuman mati. Lalu, bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan secara moral, agama, dan politik kalau bangsa yang mengaku religius, Pancasilais, dan demokratis ini membiarkan korupsi tetap menggurita? Dalam konteks kehidupan berkeluarga, sentuhan moral secara lemah lembut cukup efektif untuk mengikis korupsi. Nasihat-nasihat orang tua cukup berwibawa bagi anggota keluarganya agar menjalani hidup dengan baik. Tapi sentuhan agama dan moral bagi perilaku korupsi dalam konteks bernegara tidaklah manjur.

Kurang apa lagi ceramah-ceramah agama lewat mimbar televisi, radio, dan mimbar keagamaan lain? Jadi, aparat dan lembaga penegak hukum mesti tegas, adil, dan tuntas agar bangsa ini selamat dan bermartabat. Mari kita dukung, jangan pernah lelah dan mundur untuk memberantas korupsi. Bagi para pejabat tinggi negara dan pengusaha yang setia membayar pajak, pasti mereka akan sakit hati melihat uang pajak dikorup. Kalau saja penegak hukum itu pembayar pajak cukup besar dan setia––semoga saja begitu––, mereka tak akan segan-segan menjatuhkan sanksi yang berat bagi pelaku-pelaku mafia perpajakan dan para koruptor.

Sungguh malu, apa yang akan kita banggakan kepada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat kalau kita hidup mewah, tapi ternyata dari hasil buruan harta haram dan dengan menyengsarakan orang lain? Seorang pemimpin dan penguasa akan dihormati rakyat bukan karena jabatan dan kekayaannya, melainkan peninggalannya dalam memajukan negeri dan gigih membela kebenaran demi melindungi kepentingan orang banyak.
»»  baca selengkapnya...

Thursday, September 29, 2011

Pilih Jadi Karyawan atau Entrepreneur?

Menjadi seorang karyawan maupun menjadi seorang entrepreneur, masing-masing memiliki keuntungan dan resiko yang berbeda. Ada sebagian orang yang berani mengambil resiko dengan memilih menjadi seorang entrepreneur, tapi ada juga sebagian orang yang belum berani mengambil resiko dan memilih posisi aman dengan menjadi seorang karyawan.
Lalu bagaimana baiknya? Agar Anda tidak salah memilih, berikut kami berikan sedikit informasi yang dapat Anda jadikan sebagai bahan pertimbangan, sebelum akhirnya Anda pilih jadi karyawan atau entrepreneur?
Entrepreneur
Semakin hari jumlah entrepreneur di Indonesia semakin meningkat, hal ini menjadi salah satu bukti bahwa entrepreneur merupakan pekerjaan yang menyenangkan dan memberikan peluang yang menguntungkan bagi para pelakunya. Mengapa demikian? Sebab pekerjaan seorang entrepreneur tidak dibatasi oleh waktu maupun aturan. Dengan menjadi seorang entrepreneur, Anda bisa bebas menentukan pola kerja, bebas menentukan peluang usaha yang sesuai dengan minat dan bakat Anda, bebas menentukan target pendapatan yang diinginkan, serta bebas menentukan kebijakan yang terbaik bagi usaha Anda.
Bukan hanya  itu saja, berbagai peluang usaha yang dibangun, secara tidak langsung bisa membantu pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran yang semakin hari kian meningkat. Dan yang lebih penting lagi, kerja keras seorang entrepreneur juga dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan gaji seorang pegawai.
ilustrasi entrepreneur 218x200 Pilih Jadi Karyawan atau Entrepreneur?Namun dibalik banyaknya keuntungan yang diperoleh, menjadi seorang entrepreneur juga memiliki resiko yang tidak sedikit. Misalnya saja resiko penghasilan yang tidak tetap, ada kalanya Anda untung besar namun ada kalanya pula Anda harus rugi karena omset usaha menurun.  Disamping itu, menjadi seorang pengusaha sukses juga tidak mudah, karena tidak ada jaminan pasti bahwa semua orang yang memulai usaha bisa sukses. Butuh modal dan strategi bisnis yang matang untuk memenangkan persaingan pasar yang ada, karena dalam dunia bisnis persaingannya sudah sangat ketat.
Karyawan
Lain halnya jika Anda memilih menjadi seorang karyawan, Anda berada pada titik aman karena resiko yang ditanggung tidak terlalu besar. Keuntungan menjadi seorang karyawan antara lain, Anda bisa mendapatkan gaji tetap, ada tambahan tunjangan pensiun, serta memiliki status sosial di masyarakat karena jabatan yang Anda miliki sebagai seorang karyawan di perusahaan tertentu.
Meskipun demikian, bukan berarti menjadi seorang karyawan tidak memiliki resiko. Karyawan juga memiliki resiko yang sewaktu-waktu menghadang, walaupun tidak sebesar resiko pelaku usaha. Misalnya saja resiko terkena PHK, penghasilan yang pas-pasan, serta terikat dengan peraturan perusahaan.
Resiko lain yang sering terjadi pada karyawan yaitu munculnya kejenuhan atau stress kerja karena tugas atau pekerjaan mereka sehari-hari. Selain itu menjadi seorang karyawan juga menyita banyak waktu, karena karyawan harus bekerja sesuai dengan batasan waktu yang telah ditentukan perusahaan. Tak heran bila sebagian dari karyawan tidak mengalami perkembangan, karena waktu mereka sudah habis di perusahaan tersebut.
Nah, setelah mengetahui informasi mengenai keuntungan dan resiko yang dihadapi para karyawan maupun entrepreneur. Berikutnya pilihan ada ditangan Anda!!!
Dan apapun pilihan Anda usahakan untuk selalu fokus dan total dalam menjalankannya. Karena tidak menutup kemungkinan, seorang karyawan pun bisa membuka peluang usaha sampingan di sela-sela kesibukan kerjanya. Semoga informasi tips motivasi bisnis pekan ini dapat memberikan inspirasi untuk menentukan kesuksesan Anda. Selamat mencoba dan salam sukses.
»»  baca selengkapnya...

Sunday, July 10, 2011

TUJUH KIAT SUKES

Orang sukses adalah orang yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Ia memandang kehidupan sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan. Itulah kira-kira kesimpulan dari penelitian selama 40 tahun terhadap orang-orang sukses. Yang dicoba ditemukan dari mereka adalah bagaimana dan mengapa mereka tergerak untuk menjadi teratas di bidang masing-masing, dari olah raga, pendidikan, hingga pasar modal.

Apa sebenarnya yang mereka ketahui dan lakukan untuk menjadi sukses? Berikut ada tujuh hal yang dilakukan mereka dalam meraih sukses:

1. Orang sukses mau mengambil risiko. Mereka berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang, dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman. David C. McClelland, seorang guru besar yang mendalami perjalanan orang-orang sukses serta telah melakukan perjalanan ke banyak negara dan melatih pengusaha kecil, menyatakan cara menjadi pengusaha kecil sukses adalah dengan menjadi pengambil risiko moderat; yang mau terus mengambil risiko untuk meraih sukses.

2. Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia. Mereka memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai keterampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa keterampilan inti memberi nilai kepada keterampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.

3. Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan; mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan; mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah di pekerjaan, lapangan tenis atau lapangan golf.

4. Orang sukses adalah pelajar seumur hidup. Mereka menyadari, pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas; artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah, dan menggunakan Internet merupakan bentuk pendidikan pula. Karena itu, tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri.

5. Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan, dan ini meluas pada hal-hal lain. Mereka percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi. Orang sukses berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membuat tonggak sejarah dalam kehidupan mereka.

6. Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ada yang dengan cara melakukan beberapa pekerjaan setiap hari pada bidang berbeda. Seorang pria setengah baya memotivasi dirinya sendiri dengan mencoba mendapatkan lebih banyak uang daripada kakaknya. Seorang wanita berusia 29 tahun menjadi perawat top untuk menunjukkan kepada bekas gurunya bahwa dia memiliki keterampilan dan kecerdasan memadai untuk mencapai profesi itu.

7. Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-setengah, dan mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finis. Mereka manfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.
(WWM/William J. Bond/Gde)
»»  baca selengkapnya...

KRONOLOGIS PEMBUNUHAN K.H. CECEP BUSTOMI

Jum'at, 28 Juli 2000 06:30:49
Oleh: Izzah-Dienillah


Razia ke rumah Mamat

Ahad malam (23/7/2000), pukul 21.00 WIB. Markas Front Hizbullah (FH) di Kampung Peuni, Desa Ciputri, Kecamatan Banjar, Pandeglang, nampak ekstra sibuk. Malam itu ratusan anggota FH tengah bersiap-siap melakukan razia ke Serang. Tepatnya di desa Petir, setelah sebelumnya mereka menerima info dari anggota mereka di sana, salah seorang warga desa itu, Mamat, akan menggelar acara maksiat.

Malam itu juga dengan mengendarai delapan belas mobil angkot sewaan, 250 anggota FH berangkat. Mereka tiba di lokasi acara sekitar pukul sepuluh malam. Di lokasi kami saksikan acara dangdut dan jaipongan sedang berlangsung. Lapak judi koprok digelar dan botol-botol minuman juga berjejer di panggung, ujar Iman Saifudin, adik almarhum. Awalnya pasukan front meminta baik-baik kepada tuan rumah, agar acara itu dihentikan. Di samping mengganggu ketertiban warga sekitarnya, lokasinya juga dekat dengan masjid. Tapi tuan rumah rupanya telah menyiapkan Pratu Enjat Supriatna, seorang anggota Kopasus, menghadapi laskar FH. Negosiasi berlangsung tegang. Enjat tetap menginginkan acara hiburan berlangsung, sementara FH meminta acara itu dihentikan. Ketegangan kian memuncak ketika Enjat melepaskan dua kali tembakan ke udara, dan sekali diarahkan ke anggota Front Hizbullah. "Ia nembak dari jarak satu setengah meter, dan mengenai salah seorang anggota kami yang ada di barisan depan. Saya berani sumpah, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Karena saat itu saya juga berada di barisan
depan
", cerita Iman Saifudin.

Tembakan Enjat ternyata tidak membuat keder nyali anak-anak FH. Dodi, korban tembakan Enjat, di luar dugaan ternyata tetap bugar. Darahnya mendidih, dan langsung melabrak Enjat. Pergumulan seru terjadi. Pada satu kesempatan, tusukan golok Dodi berhasil bersarang di punggung Enjat. Merasa keteter, Enjat lari tapi Dodi terus mengejar. Akhirnya dua buah tusukan berikutnya berhasil disarangkan Dodi ke perut Enjat, tubuh anggota Kopasus itu akhirnya roboh bersimbah darah.

Melihat kejadian itu, para tamu lari belingsatan. Tapi insiden malam itu tak menghentikan aksi anak-anak front. Mereka bukan hanya menghancurkan botol-botol minuman keras, lapak-lapak judi, panggung hiburan, namun juga seluruh alat-alat musik.Usai mengobrak-abrik panggung hiburan di rumah Mamat, anak-anak front masih
sempat melakukan razia di dua tempat lainnya. Masih di sekitar desa Petir. Sekitar pukul sebelas malam operasi selesai, dan mereka kembali pulang ke markas.

Bengkel Mobil dan Hotel Srimaju Diobrak-abrik
Kejadian malam itu berbuntut. Bengkel mobil Srimaju yang berlokasi di Serang, diobrak-abrik beberapa orang lelaki bertubuh kekar. Mereka mencari ustadz Husein pemilik bengkel yang diduga sebagai salah seorang pengurus FH. Tapi yang dicari tidak ketemu. Sasaran kemarahan akhirnya diarahkan kepada 3 orang karyawan bengkel. Para pria yang kalap itu menyiksa korban hingga babak belur. Seorang karyawannya, Suheni, diberitakan tewas setelah disiksa secara brutal oleh komplotan penyerang, dan dua orang lainnya luka parah.

Pada saat hampir bersamaan, hotel Srimaju yang terletak di jalan raya Cilegon juga menjadi sasaran penghancuran komplotan lelaki bertubuh kekar. Berita penghancuran bengkel dan hotel Srimaju disesalkan pihak FH. Pasalnya si pemilik tidak ada kaitannya sama sekali dengan FH. Mereka menyangka, pemilik adalah pengurus Front Hizbullah. Padahal secara kebetulan saja, kami pada hari Sabtu (22/7) memakai aula hotel Srimaju untuk acara khitanan massal, kata salah seorang anggota FH.

K.H. Cecep Bustomi Dibunuh
Hari Senen dini hari (24/7) dalam perjalanan pulang dari acara ceramah di Sukabumi, K.H. Cecep Bustomi menerima telepon dari Markas Kopasus Grup I di Serang. Dalam nada ancaman si penelpon meminta Kyai Cecep datang ke markas pasukan elit itu dengan menyerahkan anak buahnya, si pembunuh Enjat. Dalam pembicaraan telepon Kyai Cecep menyatakan setuju memenuhi permintaan itu. Ia berjanji akan datang ke markas mereka hari itu juga.

Pukul enam pagi Kyai Cecep tiba di rumah. Setelah istirahat, kira-kira pukul sebelas ia kumpulkan beberapa komandan yang ikut dalam aksi malam Senen. Ia minta konfirmasi tentang insiden berdarah di desa Petir. Setelah jelas duduk persoalannya, panglima FH itu memutuskan akan berangkat ke Markas Kopasus
Serang bakda salat dzuhur. Usai salat dzuhur, sekitar setengah dua siang, disopiri Mardiyanto, salah seorang santrinya, Kyai Bustomi berangkat dengan mobil sedan Toyota Twincam.

Sekitar pukul dua, tokoh yang dikenal gigih memerangi kemaksiatan itu, tiba di Markas Kopasus Serang. Perundingan berakhir kira-kira pukul empat sore, setelah kedua belah pihak berjanji akan menyelesaikan persoalan secara damai. Setelah itu tanpa curiga, Kyai Cecep pulang. Secarik kertas berisi
kesepakatan damai yang ditandatangani kedua pihak sudah dipegang kyai garis keras itu. Tapi baru berjalan 300 meter dari gerbang markas pasukan elit itu, kendaraan Kyai Cecep dihadang seorang pengendara sepeda berbadan kekar. Mobil direm, dan mundur. Mardiyanto baru akan tancap gas, ketika sekonyong-konyong segerombolan pria bertubuh kekar -entah dari mana datangnya-- menyerbu mobil Kyai Cecep. Bersenjatakan golok, besi, dan balok, gerombolan menghancurkan kaca depan dan belakang mobil.

Salah seorang gerombolan memecah kaca kanan depan. Lalu dengan cepat menembakkan pistol ke arah Mardiyanto. Dor! Naluri Mardiyanto bereaksi cepat. Yayan -panggilan akrab Mardiyanto-menarik tungkai di bawah kanan jok. Ia dengan reflek membuang dirinya ke belakang. Peluru luput dari dirinya tapi nahas, peluru bersarang ke perut Kyai Cecep yang duduk di samping kirinya. "Ah saya kena. Jangan panik Yan, tancap gas!" teriak Kyai Cecep pada Yayan.

Yayan langsung tancap gas. Tapi di belakang dua buah motor segera mengejar. Keduanya berboncengan (berjumlah 4 orang dengan mengenakan kupluk). Adegan kejar-kejaran terjadi. Kyai Cecep masih tetap tegar dan memberi pengarahan pada Yayan. Langsung ke arah kota, Yan, perintah Kyai. Memasuki kota, mobil yang telah babak belur itu terus dikejar. Di perempatan Ciceri, mobil Yayan lolos dari lampu merah.

Kyai Cecep memerintahkan Yayan terus tancap gas. Sampai di perempatan Sumur Picung lampu pas merah. Panglima FH itu memerintahkan Yayan membelokkan mobil ke kanan. Mobil melaju dalam kecepatan tinggi. ke arah pasar Rau. Tapi sore itu di beberapa perempatan terjadi kemacetan. Mendekati pasar tak ada jalan alternatif untuk menghindar dari kejaran. Mobil Yayan tetap berusaha menerobos kemacetan. Nahas! Yayan menabrak sebuah truk sayur. Mobil berhenti. Di situlah para pengejar berkupluk menghabisi nyawa Kyai Cecep dengan berondongan timah panas. Sebanyak enam peluru bersarang di tubuh kyai kelahiran 7 Juli 1959 itu.

Sumber www,eramoslem.com
»»  baca selengkapnya...

Monday, June 20, 2011

REFLEKSI PEMBAHARUAN DALAM PEMIKIRAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

Oleh: Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA.
Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta.

Pendahuluan

Pembahasan tentang Ahlussunnah wal Jama'ah akan selalu tetap menarik karena pembahasan ini menyangkut dinamika internal kaum muslimin di seluruh dunia terhadap isu isu global yang tengah melanda dunia saat ini. Jika pengikut Ahlussunnah wal Jama'ah merupakan bagian yang cukup besar dari penduduk dunia, maka sikap mereka terhadap isu isu sentral yang melanda dunia saat ini sangat ditunggu oleh banyak pihak, baik di dalam negeri negara negara islam itu sendiri maupun di luar negeri terutama dari negara barat. Sikap kaum muslimin dari kalangan sunni terhadap isu isu global akan menjadi agenda dan catatan sendiri bagi pihak pihak yang berkompeten untuk menentukan sikap dalam menangani isu isu tersebut. Tulisan dibawah ini akan berusaha menjelaskan tentang Refleksi Pembaharuan Dalam Pemikiran Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Ahli Sunnah antara Sejarah dan Ajaran

Harus dibedakan antara Ahlussunnah sebagai pelaku sejarah masa lalu dan Ahlussunnah sebagai ajaran. Harus dibedakan pula antar islam sebagai ajaran dan islam sebagai sejarah. Atau juga Pembedaan ini sama dengan Islam dan kaum muslimin.

Pada masa Nabi istilah Ahlussunnah wal Jama'ah masih belum muncul. Para sahabat Nabi masih dalam kondisi yang solid dan tidak terpecah dalam kelompok kelompok. Memang banyak kejadian yang dialami para sahabat yang sempat memicu kemarahan Nabi, seperti pada saat sebagian sahabat Nabi meminta bagian dari harta pampasan pada waktu perang Hunain di Thaif. Atau pada saat sahabat Muhajirin dan Ansar terpicu oleh hasutan orang Yahudi dengan mengingatkan mereka akan perang "Bu'ats pada masa Jahiliyah dahulu (Lih: 102 Ali Imran, lih, Aysaruttafasir). Atau pada saat Nabi dicoba oleh tuduhan selingkuhnya Siti Aisyah dengan Shafwan Ibn Mu'aththil yang menyebabkan keruhnya hubungan antara Sahabat Muhajirin dan Anshar dan lain sebagainya. Namun kekeruhan suasana diantara para sahabat bisa diredam dan diselesaikan oleh Nabi. Sepeninggal Nabi terjadi kekisruhan antara sahabat Anshar dan Muhajirin yang terlibat diskusi serius dan panas untuk menetukan siapa pengganti Nabi. Sahabat Umar akhirnya bisa meredam gejolak ini dengan mengangkat tangan Abu Bakar untuk di bai'at sebgai Khalaifah Nabi. Pada saat Sahabat Umar terbunuh juga umat islam masih solid. Barulah pada saat Sahabat Usman terbunuh kekeruhan hubungan antara sahabat Nabi tidak bisa terelakkan lagi. Lalu terjadilah perang "Shiffin" antara Sahabat Ali dan Mu'awiyah. Sahabat Ali juga terlibat perang dengan pasukan Siti Aisyah dalam perang "Jamal" tapi yang terakhir ini tidak sampai memicu kericuhan dalam tubuh umat islam berkelanjutan. Pengikut setia Sahabat Ali yang semula menjadi pengikut yang biasa saja akhirnya ada yang berlaku berlebihan dalam memandang sahabat Ali. Dari sinilah muncul kelompok baru yang bernama "Syi'ah". Kelompok ini tidak lepas dari perpecahan diantara mereka sendiri. Ada kelompok "Imamiyah"yang terpecah menjadi beberapa kelompok lagi. Muncul juga kelompok "Zaidiyyah". Kelompok kelompok ini masih eksis hingga saat ini dengan segala ajarannya.

Pada masa Sahabat Ali muncul kelompok baru yaitu kelompok "Khawarij" yang menyempal dari kepemimpinan Sahabat Ali maupun Mu'awiyah setelah peperangan di "Nahrawain" yang terkenal itu. kelompok ini dikenal keras dalam akidah dan tidak pernah melunak. Mereka berani mengkafirkan sahabat, mengkafirkan orang yang redosa besar, mewajibkan berontak kepada penguasa yang lalim dan lain sebagainya. Kelompok ini juga terpecah dalam beberapa kelompok sempalan. Kelompok ini masih tersisa hingga saat ini walaupun dalam jumlah yang tidak relevan lagi untuk disebut dalam sebuah komunitas yang diperhitungkan.

Pada awal abad kedua Hijriyah muncul kelompok baru yang bernama "Mu'tazilah" yang menyempal dari majlis "Hasan Al-Basri" (w 110 h) dan mempunyai pijakan berfikirnya sendiri seperti lima pilar yang terkenal yaitu : Ketauhidan, Keadilan, Manzilah baina Manzilatain, Janji dan ancaman Allah, dan Amar Ma'ruf- Nahi Munkar. Kelompok ini pernah mendapatkan dukungan politis dari penguasa Abbasiyyah, terutama pada permulaan abad ke 3 hijriyah yaitu pada masa Khalifah "al-Ma'mun", "al-Mu'tashim billah" dan "al-Watsiq billah" (Lih. Al-Mishri, Muhammad Abdul Hadi: Ahlussunnah wal Jama'ah : Ma'alim al Inthilaqah al-Kubra, hal:57. Dar Thaybah) . Beberapa ulama sunni harus berhadapan dengan ancaman penjara atau cambuk jika tidak mengikuti madzhab Mu'tazilah tentang "Al-Qur'an". Namun sejalan dengan waktu pamor kelompok Mu'tazilah memudar terutama setelah "Khalifah Mutawakkil 'Alallah" pada abad ketiga hijriyah. Ternyata masyarakat lebih cenderung kepada ulama Sunni yang menjadi korban dari tindakan semena menanya penguasa "Abbasiyah" pada saat itu. Muncullah Imam Ahmad bin Hambal yang sangat gigih memepertahankan Hadis Nabi sebagai pijakan dalam ajaran islam.

Penguasa setelah masa terutama semenjak Khlaifah "Mutawakkil 'Alallah" lebih cenderung kepada ajaran yang diemban oleh ulama Sunni yang dipelopori oleh Imam Imam dari Madzhab fikih seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad bin Hambal dan lain ainnya. Begitu juga apa yang diyakini oleh Ulama Ahli Hadis, seperti Imam Bukhari Muslim, dan penyusun kitab kitab Hadis lainnya. Begitu juga para Ahli Qira'at, kelompok Sufi dan lain sebagainya.

Madzhab Sunni memang pernah tidak muncul ke permukaan pada saat Daulah "Fathimiyyah " di Mesir. Tapi mayoritas masyarakat sebenarnya masih kental dengan suasana Sunni. Terbukti setelah kekuasan berganti ke pemerintahan "Ayubiyah" , "Mameluk" dan "Usmaniyah" yang berakhir pada pertengahan abad 20 hampir semua pemerintahan tersebut memeluk paham Sunni".

Pada saat Bani Umayyah menduduki Andalusia sampai beberapa abad lamanya, yang muncul ke pentas sejarah adalah para ulama dari aliran Sunni. Para ahli tafsir, ahli bahasa, ahli filsafat dan lain sebagainya, hampir semuanya beraliran Sunni. Kitab kitab "Thabaqat" baik Thobaqat an-Nuhat, Thabaqat al-Udaba', Thabaqat al-Athibba', dan lain lainnya, begitu juga nama terkenal pada kitab "Tarikh Baghdad" karya al-Khathib al-Baghdadi, yang muncul adalah ulama dari Sunni.

Pada saat ini hampir diseluruh negara islam baik di Asia maupun Afrika adalah penganut madzhab Sunni. Sehingga tidak berlebihan bahwa masyarakat islam di seluruh dunia adalah pemeluk Sunni. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh David Baret disebutkan bahwa jumlah kaum muslimin di seluruh dunia pada tahun 2000 adalah 1.188.000.000 orang. Dari jumlah tersebut 1.002.000.000. atau 84.34 % nya adalah pengikut ahlissunnah wal jama'ah. Sementara 15.65 % nya terdiri dari kelompok lain seperti Syi'ah dan lain lainnya. Bandingkan dengan pengikut Katolik Roma yang berjumlah 1.002.000.000 orang pada tahun 2000. (Lih. Ar.Wikipedia.org:ahlussunnah)

Ahlussunnah Dari Segi Ajaran

Ajaran Ahulussunnah wal Jama'ah adalah ajaran islam yang dijelaskan oleh Nabi dan para sahabatnya, yaitu apa yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadis Nabi dan Ijma' para sahabat. Paham ini terus berkelanjutan hingga saat ini dan diikuti oleh sebagaian besar kaum muslim di dunia. Imam Ibn Hazm dalam kitabnya : "Al-Fashl Bainal Milal wan Nihal" mengatakan :

(قال أبو محمد وأهل السنة الذين نذكرهم أهل الحق ومن عداهم فأهل البدعة فإنهم الصحابة رضي الله عنهم وكل من سلك نهجهم من خيار التابعين رحمه الله عليهم ثم أصحاب الحديث ومن إتبعهم من الفقهاء جيلا فجيلا إلى يومنا هذا أو من اقتدى بهم من العوام في شرق الأرض وغربها رحمة الله عليهم) الفصل في الملل - (ج 2 / ص 90)

(Ahlussunah yang akan kami jelaskan adalah kelompok yang berpijak kepada kebenaran, selain mereka adalah kelompok pelaku Bid'ah. Ahlussunnah adalah para sahabat Nabi dan orang yang mengikuti jejak mereka dari kalangan tabi'in, termasuk didalamnya adalah ahli Hadis, ahli fikih dan seterusnya dari masa ke masa, dari generasi ke generasi penerus sampai saat ini. Begitu juga orang kebanyakan yang mengikuti jejak mereka baik di belahan bumi sebelah timur maupun belahan bumi sebelah barat)

Apa yang dikatakan oleh Ibn Hazm barulah pada sebatas kelompok yang masuk dalam katagori Ahlussunnah. Akan halnya ajaran pokok Ahlussunnah wal Jama'ah dan rinciannya akan berbeda antara satu dengan lainnya. Ibnu Taymiyah misalnya mengatakan bahwa pokok pokok ajaran Ahlussunnah adalah : Mengimani terhadap sifat Allah apa adanya, Al-Qur'an adalah Kalamullah, bukan Makhluk, kaum mukmin bisa melihat Allah di sorga, percaya kepada hari akhir dengan segala kejadiannya, percaya kepada Qadla' dan Qadar, Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang, mencintai sahabat Nabi, percaya kepada Karamah para wali, dan seterusnya. (Lih. Al-Mishri: Ibid. ").

Sementara "Al-Harbi, Ahmad bin 'Awadullah" dalam kitabnya "al-Maturidiyah" menjelaskan bahwa pokok ajaran Ahlussunnah dalam hal akidah adalah sebagai berikut : 1. Agama Islam telah sempurna.tidak kurang tidak lebih. 2.Apa yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadis sahih adalah sesuai dan tidak bertentangan dengan Akal. 3.Mempercayai dengan yakin apa yang berasal dari Nabi melalui hadis hadisnya baik yang mutawatir maupun yang Ahad.baik dalam mas'alah akidah maupun syari'ah. 4. Tunduk kepada perintah Allah dan RasulNya. 5.Teks yang terkait dengan sifat sifat Allah adalah sudah jelas, bukan mutasyabih lagi yang tidak diketahui maknanya. 6.menggunakan makna hakiki bukan majazi khususnya dalam mengartikan sifat sifat Allah. 7.Al-Qur'an menggunakan juga dalil dalil akli (nalar). (al-Maturidiyah : h.59)

Apa yang dikemukakan oleh beberapa ulama tentang ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah secara rinci adalah lebih dalam rangka membedakan antara mereka dengan kelompok lainnya.

Barangkali yang lebih penting lagi dari sekedar merinci ajaran Ahlussunnah adalah karakteristik ajarannya. Karakteristik ajaran Ahlussunnah adalah : 1.Satu sumber yaitu Al-Qur'an, Hadis dan Ijma' para sahabat. 2.sesuai dengan dalil dalil yang sahih baik secara rasio maupun secara naql. 3.jelas dan gambalng. Bisa dimengerti oleh orang awam sekalipun. 4.tetap tidak tergoyahkan bersama dengan bergulirnya waktu. Karena ajaran ini sesuai dengan fitrah manusia.(Islam.Web).

Ada juga yang menjelaskan bahwa ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah bersifat "Tawassuth" atau moderat. Tidak ekstrim kanan maupun ekstrim kiri. Pengertian moderat disini adalah dari semua segi, baik dari segi akidah, syari'ah maupun akhlak. Sikap moderat yang demikian inilah yang menjadikan masyarakat mencintai ajaran ini. Dalam sejarah masuknya islam dipelbagai negeri islam, seperti negeri negeri arab, penduduk yang tadinya memeluk agama lain, serta merta mengganti keyakinan mereka, adat istiadat mereka, bahasa mereka dengan keyakinan, bahasa, adat istiadat bangsa yang menaklukkan merekayaitu kaum muslimin. Ciri khas lainnya dari kelompok Ahlissunnah wal Jama'ah adalah semangat persatuan (jama'ah) dan tidak senang dengan perpecahan.

Refleksi Pembaharuan Pemikiran Dikalangan Ahlussunnah

Dari pemaparan diatas terlihat betapa ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah memeprlihatkan kelenturan dalam pelaksanaan ajaran agama islam dan juga berbagai macam bidang kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun sosial. Inilah yang menyebabkan paham Ahlussunnah bisa diterima disemua lapisan masyarakat di Indonesia.

Pengalaman keagamaan di Indonesia menunjukkan bahwa paham Ahlissunnah bisa merasuk ke Indonesia, baik melalui pedagang dari Gujarat India, maupun dari Yaman dan lain lainnya bisa diterima oleh masyarakat Indonesia yang semula beragama Buda, Hindu bahkan kepercayaan bisa dengan cepat. Para Wali Sembilan yang menyebarkan Islam di tanah Jawa mempunyai peran yang sangat penting dalam proses islamisasi tanah Jawa. Hal ini tidak lepas dari fleksibilitas ajaran yang dikemukakan kepada orang jawa, sesuai dengan nalar dan fikiran, bahkan dalam hal etika banyak sesuai dengan prinsip prinsif filsafat hidup orang Jawa, ajaran Budha dan Hindu.

Pada saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaan tahun 1945, para pemimpin Islam berselisih tentang bentuk negera Indonesia, antara yang agamis dan sekularis. Setelah perdebatan yang alot, akhirnya pemimpin Islam menyetujui bentuk negara Indonesia sebagai negara Pancasila yang menghormati semua Agama yang ada di Indonesia. Bahkan Sila pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi payung dari semua Sila yang ada dibawahnya.

Kemudian setelah itu kaum muslimin di Indonesia dihadapkan pada persoalan dasar dari semua organisasi massa yaitu berupa Asas Tunggal. Para pemuka Islam di Indonesia akhirnya bisa menerima Asas Tunggal dalam kehidupan bernegara, bukan dalam akidah dan prinsip prinsip ajaran Islam. Pada saat ini ajaran Islam sudah menyentuh banyak kehidupan bangsa Indonesia. Semua rukun Islam bisa dilaksanakan dengan baik, bahkan negara ikut membantu. Lalu dalam bidang Pendidikan, Ekonomi, sosial, Budaya,bisa berjalan dengan baik.

Refleksi pembaharuan pemikiran dalam pemikiran Ahlussunnah bisa dijabarkan dalam beberapa hal di bawah ini :

Pertama : Dalam hal akidah, pemahaman terhadap ajaran Ahlussunnah terhadap prinsip prinsip akidah tidak mengalami pembaharuan, seperti kepercayaan kepada rujukan Islam yaitu Al-Qur'an dan Hadis Nabi. Bahwa Allah adalah Esa (Tunggal), Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir, percaya kepada hari akhir, menjadikan Al-Qur'an dan Hadis menjadi rujukan utama dalam ajaran Islam, mencintai sahabat Nabi, dan lan sebagainya merupakan ajaran yang masih lekat di hati kaum Sunni. Hanya saja pembacaan terhadap kedua sumber tersebut sedikit mengalami pembaharuan seperti pada masa lalu pembacaan terhadap kedua sumber tersebut bersifat Letterlyk atau tekstual, pada saat ini banyak yang melihat keduanya dengan kontekstual. Pada saat ini yang berkembang adalah melihat ajaran islam dari segi substansinya bukan dari segi kulit luarnya. Contoh dari pandangan tersebut adalah dalam persoalan politik, Hukum, Ekonomi dan Sosial.

Dalam hal akidah kaum Sunni mempunyai beberapa kelompok. Dari beberapa kelompok ini bisa terbagi menjadi dua bagian saja yaitu : Salaf dan Khalaf. Kaum salaf berkiblat kepada Ahmad bin Hambal, Ibnu Taymiyah, Ibn al Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan segenap ahli hadis. sementar a Khalaf berkiblt kepada Imam Abul Hasan Al-Asy'ari, al-Maturidi, Al-Ghazali, ar-Razi, al-Baqillani, Ibn Kullab dan lain sebagainya. Dari kelompok salaf yang memberlakukan ajaran agama secara ketat dan ada juga yang longgar. Dari kalangan Khalaf pun demikian, ada yang ketat dan ada yang longgar. Kitab "Sulamuttaufiq" yang dikarang oleh ulama Khalaf Sunni, adalah contoh betapa ketatnya hukum yang diberlakukan. Begitu juga dengan kitab "Ihya Ulumiddin" karya al-Ghazali. Sementara dari kalangan Khalaf banyak yang longgar dalam penerapannya seperti Imam Sayuthi, Imam Subki, dalam Fatawanya, atau Syekh Alwi Al Maliki (alm) di Mekkah dan seluruh koleganya. Tapi ketat atau longgarnya pemberlakuan ajaran islam, keduanya masih berada pada tataran Sunni.

Kedua : Dalam Hal Politik. Pada masa lalu bentuk negara yang semula harus berupa khilafah, pada saat ini setelah banyak muncul negara bangsa (Nation State), kaum Sunni bisa menerimanya dengan terbuka. Bentuk pemerintahan juga disikapi oleh kalangan Sunni dengan sikap fleksibel. Kalangan Sunni menganggap bahwa bentuk pemerintahan adalah sebagai sarana saja untuk melaksanakan agenda umat islam dalam melaksanakan ajaran agama. Bukan merupakan tujuan utama. Pemerintahan bisa berupa kerajaan (Monarchi) bisa juga berupa Parlementer, bisa juga berupa Republik, selama hal tersebut dilakukan melalui musyawarah bersama. Peristiwa politik yang berdarah di Indonesia pada tahun 50 an, seperti pemberontakan yang dilakukan oleh DI (Darul Islam) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang menghendaki Negara Islam, yang mencerminkan pemahaman konservatif dan tekstual, tidak mendapat tanggapan dari banyak kalangan kaum muslimin. Kepala pemerintahan dalam nizham "Khilafah" yang semula diharuskan harus mempunyai pengetahuan agama islam yang luas, tidak lagi demikian. Kepala pemerintahan yang semula harus dari kalangan kaum lelaki, tidak lagi demikian. Banyak ulama Sunni yang memperbolehkan perempuan menjabat sebagai kepala pemerintahan.

Kepercayaan kaum Sunni yang tidak memperbolehkan anggauta masyarakat dalam sebuah negara membangkang dan memberontak kepda pemerintahan yang sah walaupun mereka zalim, selama masih mendirikan salat, sebagaimana dalam hadis Nabi :

مسند أحمد - (ج 24 / ص 58)

- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا أَبِى. وَعَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جُحَادَةَ حَدَّثَنِى الْوَلِيدُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْبَهِىِّ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ تَطْمَئِنُ إِلَيْهِمُ الْقُلُوبُ وَتَلِينُ لَهُمُ الْجُلُودُ ثُمَّ يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ تَشْمَئِزُّ مِنْهُمُ الْقُلُوبُ وَتَقْشَعِرُّ مِنْهُمُ الْجُلُودُ ». فَقَالَ رَجُلٌ أَنُقُاتِلُهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا الصَّلاَةَ ».

معتلى 8286 مجمع 5/218

(Nabi bersabda : akan datang kepadamu para pemimpin yang disenangi dan di segani, lalu akan ada pemimpin yang tidak disenangi dan ditakuti, ada sahabat yang bertanya : apakah kami bleh memerangi mereka? Jawab Nabi : tidak boleh, selama mereka masih melaksanakan salat)kata Imam Abul Hasan Al Asy'ari dalam kitabnya "Maqlatul islamiyyin":

مقالات الإسلاميين - (ج 1 / ص 111)

وقال قائلون: السيف باطل ولو قتلت الرجال وسبيت الذرية وأن الإمام قد يكون عادلاً ويكون غير عادل وليس لنا إزالته وإن كان فاسقاً وأنكروا الخروج على السلطان ولم يروه، وهذا قول أصحاب الحديث.

(Ada yang berpendapat : mengangkat senjata tidak boleh, walaupun banyak korban dari kalangan kaum lelaki dan banyak wanita yang ditawan. Pemimpin kadangkala adil, tapi kadangkala zalim, namun kita tidak boleh memberontak, walaupun mereka fasik. Pendapat tersebut tidak memperbolehkan memberontak kepada pemerintah yang sah. Inilah pendapat ulama Hadis).

Melalui pandangan yang demikian maka kaum Sunni dimanapun berada selalu berada pada keadaan yang bisa di terima oleh semua pemerintahan di dunia. Selain negeri Komunis pada masa lalu. Khususnya pada "Revolusi Kebudayaan" pada masa Mao Zedong di China.

Ketiga : Dalam Bidang Hukum. Ulama Sunni mempunyai pengalaman yang sangat luas dalam bidang hukum islam. Kaidah kaidah fikih yang telah di produk oleh mereka, sesuai dengan pandangan masing masing madzhab, merupakan bagian yang integral dalam cara mengantisipasi perkembangan yang ada di dalam masyarakat. Sehingga tidak ada satupun persoalan yang tidak bisa dipantau oleh hukum, baik hukum privat maupun hukum sosial. Yang terjadi perobahan dalam bidang fikih adalah perobahan dari "Fikih Qauli" yang mengikuti fatwa ulama pendahulu secara qaul saja menuju ke "Fikih Manhaji" yaitu mengikuti metode berfikir dari masing masing Mujtahid. Dengan cara demikian maka ulama Sunni masa kini bisa dengan leluasa menggunakan metode berfikirnya ulama fikih masa lalu. Kaedah yang mengatakan : ( الأصل فى الأشياء الاباحة ) bahwa segala sesuatu transaksi atau makanan pada dasarnya adalah di perbolehkan, merupakan landasan berfikir untuk menentukan berbagai macam produk hukum yang muncul belakangan ini.

Pada masa kini berkembang dikalangan Sunni wacana untuk mengguakan teori "Maqashid Asy-Syari'ah" atau "Fiqh al-Maqashid" sebagai pijakan dalam menentukan satu permas'alahan hukum. Teori ini sebenarnya telah muncul pada masa lalu seperti apa yang terdapat dalam kitab "Qawa'id al Ahkam fi Mashalih al Anam" karya Izzuddin Ibn Abdissalam" atau kitab "Al-Muwafaqat Fi Ushul Asy-Syari'ah" karya Imam Syathibi dan lain lainnya. Jika teori ini dikembangkan maka banyak produk hukum yang lalu tidak lagi dipakai pada saat ini mengingat situasi dan kondisinya sudah berbeda.

Dikalangan Sunni juga muncul pemikiran yang memisahkan antara Islam sebagai ajaran yang bersifat Universal dan budaya Arab yang bersifat lokal. Melalui pemisahan ini maka kelompok Sunni bisa bergerak secara leluasa dalam berbusana asal memenuhi standar syari'ah.

Keempat : dalam Bidang Hubungan antar Umat Beragama. Dalam bidang ini telah berkembang pemikiran yang meniscayakan adanya paham "Ta'addudiyyah" atau paham yang meniscayakan adanya pluralitas dalam berbagai kehidupan. Banyak teks teks keagamaan yang meniscayakan teori ini, tapi banyak kalangan masih terobsesi pada sejarah umat islam pada masa lalu yang menjadikan umat islam sebagai umat yang superiotas, sementara yang lainnya harus berada dibawah mereka. Pada saat ini keadaan telah berobah. Yang ditonjolkan justeru Islam sebagai agama yang membawa rahmah kepada alam, islam yang sejuk, bukan islam yang garang. Muncul pembagian Ukhuwwah menjadi beberapa bentuk yaitu : Ukhuwwah Insaniyyah (persaudaraan antar manusia), Ukhuwwah Diniyyah (persaudaraan antar pemeluk agama), Ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan antara sesama kaum muslim) sampai kepada Ukhuwwah Wathaniyyah (persaudaraan antara warga di satu negara). Semuanya itu merupakan bentuk perkembangan pemahaman ASWAJA dalam mengantisipasi perkembangan zaman. Di Indonesia sendiri telah terbit aturan tentang penyebaran agama, ada organisasi yang mengikut sertakan semua umat beragama yang dipelopori oleh Departemen Agama RI. Tujuannya agar semua umat beragama menjadi rukun.

Kelima : dalam Bidang Ekonomi. Kalangan Sunni tidak serta merta menolak ekonomi Kapitalis yang banyak diterapkan dan dikembangkan oleh negara Islam. Tapi mereka masih memilah mana produk ekonomi Kapitalis yang bisa diterima dan mana yang tidak. Mereka juga berusaha untuk memunculkan teori ekonomi yang berbasiskan syari'ah Islam. Muncullah Bank Syari'ah, Bank Tamwil dengan semua produk produknya. Ternyata teori ini mendapatkan sambutan yang cukup baik dari semua kalangan. Umat islam memang ditantang untuk mewujudkan teori baru yang bebas dari MAGRIB (Maysir:judi-Garar:penipuan-Riba:bunga berbunga dan -Batil). Untuk mewujudkan teori ini diperlukan kesungguhan dari semua pihak tanpa ada kecurigaan yang berlebihan. Apa yang dilakukan oleh Malaysia dalam hal ini merupakan teobosan yang mengagumkan bagi kaum muslim dan dunia Islam.

Keenam : dalam Bidang Pendidikan. Pada masa lalu ada pandangan yang mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ulama juga terbagi menjadi dua. Ada Ulama dan ada Cendikiawan. Sebutan Ulama untuk mereka yang mendalami hukum islam, sementara Cendikiawan menjadi sebutan untuk kalangan cerdik pandai dari kalangan ilmu umum (sekular). Namun pada masa sekarang ini dikotomi ini semakin menipis. Ismail Raji Al-Faruqi seorang pemikir islam dari Sunni pernah melontarkan gagasan "Islamisasi Ilmu Pengetahuan". Pengaruh dari pemikiran ini munculnya banyak kalangan umum yang mencoba melakukan penyelidikan terhadap ayat ayat Al-Qur'an dan Hadis untuk membuktikan kebenaran Islam. Hubungan yang harmonis antara Islam dan Ilm Pengetahuan menyebabkan islam tidak lagi berada di Masjid masjid, surau surau, tapi islam sudah merambah ke seluruh sektor kehidupan.

Penutup

Dari pemaparan diatas nyatalah bagi kita bahwa ajaran ASWAJA merupakan ajaran yang memiliki ketegasan dalam sikap mengikuti ajaran agama islam seperti dalam hal akidah dan ajaran pokoknya, tapi disisi yang lain paham ASWAJA mempunyai fleksibilitas dan kelenturan dalam hal hukum dan kemasyarakatan. Kelenturan ini menyebabakan ajaran ASWAJA mendapatkan tempatnya dihati masyarakat di seluruh penjuru dunia, dari masa lalu hingga saat ini. Dengan demikian kita semakin yakin bahwa ajaran ASWAJA adalah ajaran yang perlu diteruskan dari generasi ke generasi, terutama di ranah Melayu yang etika, budaya dan adat istiadatnya banyak yang sesuai dengan ajaran Sunni. Inilah ajaran yang digariskan oleh Nabi, sahabatnya dan pengikut pengikutnya yang setia.
»»  baca selengkapnya...